Sabtu, 27 Agustus 2011

Abu Ma'shar Astrolog Muslim Dari Persia

albalkh_200_200.jpg (200×200)Al-Falaki. Gelar itu ditabalkan para ilmuwan di era kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah kepada Abu Mashar berkat kehebatannya dalam bidang astrologi (ilmu perbintangan). Gerrit Bos dalam tulisannya bertajuk Abu Mashar: The Abbreviation of the Introduction to Astrology, Together with the Medieval Latin Translation of Adelard of Bath, menyebut Abu Mashar sebagai astrolog hebat di abad ke-9 M.

Karya-karya Abu Mashar dalam bidang astrologi begitu populer dan sangat ber pengaru h bagi peradaban masyarakat Eropa Barat di abad pertengahan, ujar Bos. Betapa tidak. Sederet adikarya sang Astrolog Muslim itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Menurut Bos, Abu Mashar tak hanya berpengaruh dalam bidang astrologi, ia juga berkontribusi dalam bidang kedokteran.
Penjelasan mengenai soal epidemik, papar Bos, merupakan salah satu pengaruh besar Abu Mashar dalam bidang kedokteran di Eropa. Ia menghubungkan masalah kedokteran dengan fenomena luar angkasa lewat teorinya yang disangat popular, yakni Theory of the Great Conjunctions.

Menurut teori ini, hubungan planet tertentu dapat menyebabkan bencana alam dan politik, tutur Bos. Salah satu bencana besar yang dihubung-hubungkan para dokter di abad ke -14 dengan teori yang dicetuskan Abu Mashar adalah fenomena Black Death. Hal ini menunjukkan betapa pemikiran Abu Mashar begitu berpengaruh terhadap peradaban Barat.

Keiji Yamamoto dalam tulisannya tentang sejarah hidup Abu Mashar mengungkapkan, ilmuwan Muslim terkemuka di abad ke-9 M itu terlahir pada 10 Agustus 787 M di Balkh, Persia (sekarang Afganistan). Sejatinya ia memiliki nama lengkap Jafar ibnu Muhammad Abu Mashar al-Balkhi.

Selain dikenal dengan sebutan Abu Mashar, atrolog yang satu ini juga biasa disebut dengan panggilan Abulmazar. Abu Mashar merupakan seorang ilmuwan serbabisa. Selain dikenal sebagai seorang ahli astrologi (ilmu perbintangan), Abu Mashar juga menguasai matematika, astronomi, dan filsafat Islam. Ia menekuni matematika saat berusia 47 tahun, setelah kenal dan berkecimpung dalam dunia astrologi.

Ia merupakan murid dari seorang guru yang sangat legendaris, yakni al-Kindi, ilmuwan Muslim di abad ke-8 M. Seperti sang guru, nama Abu Mas'har begitu populer di dunia Barat. Abu Ma'shar telah berjasa menyatukan pelajaran ilmu perbintangan dari berbagai sumber Islam yang luas.

Menurut Yamamoto, Abu Ma'shar juga merupakan salah satu orang yang berpe -ran sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Sayangnya, tak banyak umat Islam di era modern yang mengetahui kisah hidup Abu Mashar. Para sejarawan sains pun sangat jarang mengupas kisah hidup sang ilmuwan.

Tak heran, jika banyak hal dalam sejarah hidup sang ilmuwan yang masih misterius dan menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Menurut Yamamoto, Abu Ma'shar terkenal dengan karya astrologinya. Yamamoto menuturkan, Abu Ma'shar pernah menulis mengenai ilmu perbintangan, termasuk tabel astronomi. Ada beberapa pertanyaan mengenai tanggal kelahiran dan kematiannya, karena pendahulunya mengetahuinya hanya semata-mata berdasarkan pada kutipan horoskop (zodiak) yang tak dikenal dalam bukunya yang bertajuk The Revolutions of the Years of Nativities, papar Yamamoto.

Sejarah hidup Abu Ma'shar, tutur Yamamoto, ditulis seorang sejarawan pada abad ke-10 M bernama Ibnu al-Nadim (wafat 995/998 M). Salah satu misteri yang belum terungkap secara pasti tentang Abu Ma'shar adalah tahun wafatnya. Yamamoto memperkirakan, Abu Ma'shar wafat di Irak pada tahun 886 M. Sementara itu, al-Biruni (973-1048M) dalam karyanya bertajuk Chronology of the Ancient Nation menuturkan bahwa Abu Ma'shar masih melakukan pengamatan astrologi pada 892 M atau enam tahun sesudah tahun kematian yang disebutkan oleh para sejarawan. Al-Biruni dalam karyanya Book of Religions and Dynasties juga mengambil referensi dari karya Abu Ma'shar mengenai posisi bintang yang ditulis pada 896/897 M.

Karya tersebut ditulis Abu Ma'shar ketika berusia lebih dari 100 tahun. Ibnu al-Nadim dalam karyanya Fihrist mengungkapkan bahwa Abu Ma'shar merupakan ilmuwan dan filsuf yang menentang pandangan Helenistik. Pandangan Abu Ma'shar ini kemudian dimanfaatkan al-Biruni untuk memetahkan pendapat filsuf Islam sebelumnya yakni al-Kindi (801-873 M). Kemasyhuran Abu Ma'shar sebagai ahli astrologi hebat di istana Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad membuat namanya masuk dalam cerita tentang astrologi.

Bahkan, Ibnu Tawus (1193n1266 M) mengumpulkan beberapa anekdot Abu Ma'shar dalam karyanya berjudul Faraj al-Mahmum (Biografi Para Astrolog). Sayangnya, nyaris semua karya Abu Ma'shar dalam astronomi telah hilang, dan hanya karya astrologinya dalam bahasa Arab yang masih tersisa. Nama Abu Ma'shar tampaknya lebih populer di dunia Barat, ketimbang di dunia Islam modern. Nyaris tak ada pelajaran yang diajarkan di sekolah di Indonesia yang menyebut nama dan kontribusi Abu Ma'shar di era kekhalifahan. Sungguh sangat ironis.

Kontribusi Sang Astrolog
Siapa yang membaca akan mengetahui. Siapa yang menulis tak akan pernah mati. Peribahasa orang Perancis itu menemukan faktanya. Meski Abu Ma'shar telah tiada belasan abad silam, namun namanya tetap dikenang dan diperbincangkan kalangan ilmuwan, khususnya di dunia Barat.

Salah satu buku yang ditulis Charles Burnett bertajuk Abu Ma'shar: The Abbreviation of the Introduction to Astrology merupakan bukti betapa pemikiran sang ilmuwan masih dianggap penting oleh dunia Barat.

Richard Lemay dalam karyanya berjudul Abu Ma'shar and Latin Aristotelianism in the Twelfth Century, The Recovery of Aristotles Natural Philosophy through Iranian Astrology, masih tertarik dengan pemikiran sang astrolog Muslim.

Dalam bukunya itu Lemay berargumentasi bahwa tulisan Abu Ma'shar sangat mirip dengan salah satu karya terpenting teori Aristoteles tentang alam. Salah satu karya Abu Ma'shar dalam bidang astrologi yang sangat berpengaruh berjudul Kitab al-Mudkhal al-Kabir. Kitab ini terdiri dari 106 bab.

Karyanya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1133 M dan tahun 1140 M. Selain itu, buku yang ditulis Abu Mafshar pun diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Tak heran, jika buah pikir Abu Mafshar telah memiliki pengaruh yang signifikan kepada ahli filsafat Barat, salah satunyai Albert The Great.

Abu Ma'shar juga menulis sebuah versi ringkas dalam mengenalkan karyanya Kitab Mukhtafar alfMudkhal yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Adelard of Bath. Buku lainnya yang ditulis Abu Ma'shar yang terkenal dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin bertajuk Introductorium in Astronmiam.

Buku itu merupakan terjemahan dari kitab berbahasa Arab yakni Kitab al-Mudkhal al-Kabir ila eIlm Ahkam Annujjum, yang ditulis Abu Ma'shar di Baghdad pada 848 M. Kali pertama, kitab itu dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin oleh John of Seville pada 1133 M, dan selanjutnya, literatur dibuat lebih sedikit dan ringkas oleh Herman of Carinthia pada 1140 M.

Karya lainnya yang ditulis Abu Ma'shar adalah sejarah astrologi yang memperkenalkan tradisi Sasaniah. Ini dibuat pada era kekuasaan Khalifah al-Mansur, khalifah kedua pada dinasti Abbasiyah. Ini merupakan bagian strategi politik al-Mansur untuk memberikan sebuah yayasan untuk lahirnya dinasti baru, dan tentu saja itu digunakan paling efektif antar Dinasti Abbasiyah sebelumnya.

Buku Abu Ma'shar yang monumental dalam kategori sejarah adalah Kitab al-Milal wa-l-Duwal (Kitab tentang agama-agama dan dinasti). Buku itu terdiri dari delapan bagian dalam 63 bab. Karyanya yang satu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dibaca oleh Roger Bacon, Pierre dfAilly, dan Pico della Mirandola (1463n1494 M).

Pemikiran Abu Ma'shar ini tentunya juga dibahas dalam karya besar mereka. Karya lain dalam kategori ini meliputi Fi dhikr ma tadullu elayhi al-ashkhas al-fulwiyya, Kitab aldalalat elaalittisalat waqiranat al-kawakib,dan Kitab aluluf (Book of Thousands), yang tidak bertahan lama tapi ringkasannya dipelihara oleh Sijzi (945-1020M).

Karya lainnya dari sang ilmuwan dikategorikan dalam genethlialogi, ilmu pengetahuan mengenai pemilihan kelahiran. Salah satu contoh adalah Kitab Tahawil Sini al-Mawalid (Book of the revolutions of the years of nativities).

Buku ini juga telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Yunani. Kitab itu terdiri dari sembilan volume dan terbagi menjadi 96 bab. Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani hanya lima volume dan terdiri dari 57 bab.

Karya lain Abu Ma'shar yang masuk dalam kategori ini adalah Kitab Mawalid al-Rijal wa-al-Nisa atau (Buku Asal Pira dan Wanita). Dalam karyanya Introductorium in Astronomiam and De magnis coniunctionibus, Abu Ma'shar, mengatakan, dunia diciptakan ketika tujuh planet bergabung dengan Aries, dan ramalan itu bisa berakhir ketika fenomena yang sama terjadi pada Pisces.

Terjemahan kedalam bahasa Latin dan dalam bahasa sehari-hari menjadikan karyanya beredar luas di Eropa dan menjadi sumber inspirasi untuk literatur penggambaran astrologi dengan beberapa pengarang minor awal era modern.

Astronomi
Abu Ma'shar mengembangkan model planet yang beberapa penafsiran sebagai sebuah model heliosentrik. Ini menunjukkan pada revolusi orbital planet diberikan sebagai revolusi heliosentrik lebih baik dari pada revolusi geosentrik dan hanya diketahui teori planet di kejadian ini dalam teori heliosentrik.

Karyanya dalam teori planet tidak dapat bertahan, tapi data astronomnya terakhir direkam oleh al-Hashimi dan al-Biruni, jelas Bartel Leendert van der Waerden dalam karyanya The Heliocentric System in Greek, Persian and Hindu Astronomy.(rp/suaramedia)

Infrastruktur Transportasi Negara Khilafah

Oleh : Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar


Seorang ahli teknik sipil bertanya, seperti apa konsep infrastruktur transportasi negara khilafah? Tentu tidak dengan serta merta pertanyaan ini dapat dijawab. Apalagi bagi banyak orang, persoalan transportasi seakan hanya persoalan teknis. Dan di zaman dulu teknologinya masih sangat berbeda, dan jumlah penduduknya juga masih sedikit, sehingga problema kemacetan yang parah seperti saat ini mungkin tidak pernah ada.

Tetapi, bagi seorang Muslim pejuang syariah, pertanyaan apapun justru melecutnya untuk lebih mendalami syariat Islam beserta realitas empiris yang ada. Maka dalam persoalan infrastruktur transportasi, kita akan mendapati setidaknya tiga prinsip:

Pertama, prinsip bahwa pembangunan infrastruktur adalah tanggungjawab negara, bukan cuma karena sifatnya yang menjadi tempat lalu lalang manusia, tetapi juga terlalu mahal dan rumit untuk diserahkan ke investor swasta. Di Jakarta, karena inginnya diserahkan ke swasta, pembangunan monorel jadi tidak pernah terlaksana.

Kedua, prinsip bahwa perencanaan wilayah yang baik akan mengurangi kebutuhan transportasi. Ketika Baghdad dibangun sebagai ibukota, setiap bagian kota direncanakan hanya untuk jumlah penduduk tertentu, dan di situ dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan. Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.

Ketiga, negara membangun infrastruktur publik dengan standar teknologi terakhir yang dimiliki. Teknologi yang ada termasuk teknologi navigasi, telekomunikasi, fisik jalan hingga alat transportasinya itu sendiri.

Navigasi mutlak diperlukan agar perjalanan menjadi aman, tidak tersesat, dan bila ada masalah, dapat ditolong oleh patroli khilafah. Untuk itulah kaum Muslimin belajar astronomi dan teknik membuat kompas sampai ke Cina dan mengembangkan ilmu pemetaan dari astronomi yang teliti. Ratusan geografer menjelajah seluruh penjuru dunia dan membuat reportase negeri-negeri yang unik. Hasilnya, perjalanan haji maupun dagang baik di darat maupun di lautan menjadi semakin aman.

Telekomunikasi dalam wujud yang sederhana juga makin berkembang. Pesan yang dikirim lewat merpati pos, atau sinyal cahaya atau asap dari pos-pos patroli semakin canggih. Para matematikawan bekerja keras membuat kode yang makin efisien dan aman dari penyadapan.

Teknologi & manajemen fisik jalan juga tidak ketinggalan. Sejak tahun 950, jalan jalan di Cordoba sudah diperkeras, secara teratur dibersihkan dari kotoran, dan malamnya diterangi
lampu minyak. Baru 200 tahun kemudian, yakni 1185, baru Paris yang memutuskan sebagai
kota pertama Eropa yang meniru Cordoba.

Sedang untuk kendaraannya sendiri, sesuai teknologi saat itu, kaum Muslimin telah memuliakan jenis kuda dan unta yang makin kuat menempuh perjalanan. Untuk di laut mereka juga banyak mengembangkan teknologi kapal. Tipe kapal yang ada mulai dari perahu cadik kecil hingga kapal dagang berkapasitas di atas 1.000 ton dan kapal perang untuk 1.500 orang. Pada abad 10 M, Al Muqaddasi mendaftar nama beberapa lusin kapal, ditambah
dengan jenis-jenis yang digunakan pada abad-abad sesudahnya.

Bahkan untuk transportasi udara pun ilmuwan Muslim sudah memikirkan. Abbas Ibnu Firnas (810-887 M) dari Spanyol melakukan serangkaian percobaan untuk terbang,1.000 tahun lebih awal dari Wright bersaudara, sampai Sejarawan Phillip K Hitti menulis dalam History of the Arabs, `Ibn Firnas was the first man in history to make a scientific attempt at flying."

Yang menarik, hingga abad 19 Khilafah Utsmaniyah masih konsisten mengembangkan
infrastruktur transportasi ini. Saat kereta api ditemukan di Jerman, segera ada keputusan khalifah untuk membangun jalur kereta api dengan tujuan utama memperlancar perjalanan haji. Tahun 1900 M Sultan Abdul Hamid II mencanangkan proyek "Hejaz Railway" Jalur kereta ini terbentang dari Istanbul ibukota khilafah hingga Mekkah, melewati Damaskus, Jerusalem dan Madinah. Di Damaskus jalur ini terhubung dengan "Baghdad Railway”, yang rencananya akan terus ke timur menghubungkan seluruh negeri Islam lainnya. Proyek ini diumumkan ke seluruh dunia Islam, dan umat berduyun-duyun berwakaf. Kalau ini selesai, pergerakan pasukan khilafah untuk mempertahankan berbagai negeri Islam yang terancam penjajah juga sangat menghemat waktu. Dari Istanbul ke Makkah yang semula 40 hari perjalanan tinggal menjadi 5 hari!

Rel kereta ini mencapai Madinah pada 1 September 1908. Pada 1913, stasiun "Hejaz Train"di Damaskus telah dibuka dengan perjalanan perdana ke Madinah sepanjang 1.300 Km. Namun penguasa Arab yang saat itu sudah memberontak terhadap khilafah karena provokasi Inggris melihat keberadaan jalur kereta ini sebagai ancaman. Maka jalur ini sering disabotase, dan pasukan khilafah tidak benar-benar sanggup menjaga keamanannya.

Perang Dunia I mengakhiri semuanya. Tak cuma khilafah yang bubar, jalur kereta itupun juga berakhir. Kini KA itu tinggal beroperasi sampai perbatasan Jordania - Saudi.

Kitab Aljabar, Karya Fenomenal Matematikus Agung

harunrasyid.jpg (206×240)Sejatinya kitab ini berjudul al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-gabr wa'l-muqabala. Dalam bahasa Inggris kitab ini dikenal sebagai "The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing". Kitab peletak dasar matematika modern itu biasa pula disebut Hisab al-jabr wal-muqabala. Kitab ini merupakan karya seorang ilmuwan Muslim pada abad ke-9 M yang sangat monumental.

Adalah Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi sang penulis kitab matematika itu. Matematikus Muslim asal Persia itu merampungkan kitab yang sangat populer dan menjadi rujukan para ahli matematika sepanjang zaman itu pada 820 M. Berkat kitab inilah, dunia matematika modern mengenal istilah Aljabar. Aljabar berasal dari bahasa Arab al-gabr yang berarti ''pertemuan'' atau ''hubungan.''

Aljabar merupakan cabang matematika yang dapat dicirikan sebagai generalisasi dan perpanjangan aritmatika. Aljabar juga merupakan nama sebuah struktur aljabar abstrak, yaitu aljabar dalam sebuah bidang. Carl B. Boyer dalam karyanya bertajuk "The Arabic Hegemony": A History of Mathematics, mengungkapkan, Kitab Aljabar karya Khawarizmi menguraikan perhitungan yang lengkap dalam memecahkan akar positif polynomial persamaan sampai dengan derajat kedua.

Boyer menambahkan, kitab karya Khawarizmi itu juga memperkenalkan metode dasar "mengurangi" dan "keseimbangan/balancing", yang mengacu pada perubahan syarat-syarat mengurangi sisi lain sebuah persamaan yaitu pembatalan syarat-syarat seperti sisi berlawanan dari persamaan.

Kitab Aljabar juga telah menjadi rujukan ilmuwan sepanjang masa, baik itu bagi matematikus Islam maupun Barat. Beberapa saintis terkemuka juga telah menerbitkan buku dengan nama Kitab al-Gabr wa-l-muqabala, diantaranya; Abu Hanifa al-Dinawari serta Abu Kamil Shuja ibnu Aslam.

Selain itu, Abu Muhammad al-'Adli, Abu Yusuf al-Missisi, 'Abd Al-Hamid ibnu Turk, Sind ibnu 'Ali, Sahl ibnu Bišr, dan Sarafaddin al-Tusi juga termasuk ilmuwan Muslim yang banyak terpengaruh pemikiran Khawarizmi.

R Rashed dan Angela Armstrong dalam karyanya bertajuk The Development of Arabic Mathematics, menegasakan bahwa Aljabar karya Al-Khwarizmi memiliki perbedaan yang signifikan dibanding karya Diophantus, yang kerap disebut-sebut sebagai penemu Aljabar. Dalam pandangan kedua ilmuwan itu, karya Khawarizmi jauh lebih baik di banding karya Diophantus.

"Teks karya Khwarizmi begitu berbeda, tidak hanya dari buku karya orang Babilonia, tetapi juga dari karya Arithmatika-nya Diophantus. Ini tidak lagi menyangkut sejumlah masalah untuk diselesaikan, namun sebuah pertunjukan yang dimulai dengan istilah sederhana yang kombinasinya memberikan semua kemungkinan untuk persamaan dasar, yang mulai saat ini secara eksplisit merupakan objek studi yang benar,'' papar Rasheed dan Armstrong.

Hal senada diungkapkan sejarawan sains JJ O'Connor dan EF Robertson pada karyanya berjudul History of Mathematics. Menurutnya, karya matematikus Persia itu merupakan karya yang revolusioner. "Mungkin salah satu kemajuan yang paling signifikan yang dibuat ahli matematika Arab hingga saat ini adalah karya Khawarizmi, yakni Kitab Aljabar,'' ujar O'Connor dan Robertson.

Menurut keduanya, Kitab Aljabar sungguh sangat revolusioner, karena mampu beralih dari ari konsep matematika Yunani yang didasarkan pada geometri. 'Dalam pandangan O'Connor dan Robertson, Kitab Aljabar yang ditulis Khwarizmi berisikan teori pemersatu yang menyediakan angka-angka/bilangan rasional, angka-angka irasional, besar/jarak geometri, dan lain-lain.

O'Connor dan Robertson menambahkan semua bilangan tersebut diperlakukan sebagai "objek aljabar". Hal itu dinilai sebagai sebuah perkembangan bagi matematika. Pasalnya, Kitab Aljabar telah membuka jalan baru bagi konsep yang telah ada sebelumnya.

"Dan ini merupakan sarana yang dapat menjadi kendaraan bagi pembangunan masa depan s. Aspek lain yang penting adalah aspek pengenalan gagasan Aljabar yang telah disediakan matematika yang akan diterapkan untuk dirinya sendiri dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya," papar O'Connor dan Robertson.

Kitab karya Khawarizmi itu merupakan sebuah kompilasi dan perluasan aturan yang diketahui untuk memecahkan persamaan kuadrat dan untuk beberapa masalah lain, dan dianggap sebagai dasar aljabar moderen. Buku yang sangat populer ini mulai diperkenalkan ke dunia dunia Barat lewat terjemahan bahasa Latin oleh Robert of Chester berjudul Liber algebrae et almucabala.

Karena buku ini tidak memberikan sejumlah kutipan untuk penulis sebelumnya, sehingga tak diketahui pendapat siapa saja yang digunakan Khwarizmi sebagai referensi dalam karyanya itu. Sejarawan matematika modern mengomentari kitab itu berdasarkan analisis tekstual dari buku dan seluruh tubuh pengetahuan tentang dunia Muslim kontemporer.

Pastinya yang paling berhubungan dalam karya Khawarizmi adalah ilmu matematika India. Pasalnya, ia telah menulis buku berjudul Kitab al-Jam wa-l-tafriq-bi-hisab al-Hind atau The Book of Addition and Subtraction According to the Hindu Calculation yang membahas sistem bilangan Hindu-Arab.

Buku persamaan pengurangan kuadrat acak ke salah satu dari enam jenis dasar dan menyediakan metode aljabar dan geometri untuk memecahkan dasar utama. "Pengurangan angka-angka abstrak modern dalam aljabarnya Khawarizmi adalah retorik menyeluruh, dengan tidak ada yang sinkopasi ditemukan pada Aritmatika Yunani atau karya Brahmagupta. Bahkan angka-angka yang ditulis lebih banyak dalam kata-kata daripada simbol," tutur Carl B Boyer, dalam karyanya bertajuk A History of Mathematics.

Dengan demikian persamaan akan dijelaskan secara lisan dalam bentuk istilah "kuadrat" (sekarang menjadi "x2"), "akar" (sekarang menjadi "x") dan "angka"(biasa dibilang angka, seperti '40-2'). Enam jenis persamaan dengan angka-angka modern, adalah:

* kuadarat sama dengan akar ( ax2 = bx )
* kuadrat sama dengan angka/bilangan ( ax2 = c )
* akar sama dengan angka ( bx = c )
* kuadrat dan akar sama dengan angka ( ax2 + bx = c )
* kuadrat dan angka sama dengan akar ( ax2 + c = bx )
* akar dan angka sama dengan kuadrat ( bx + c = ax2 )

Bagian berikutnya dari buku ini membahas contoh-contoh praktis dari penerapan peraturan yang telah dijelaskan. Bagian berikut, berkaitan dengan penerapan masalah pengukuran luas dan volume atau isi. Bagian terakhir berkaitan dengan perhitungan yang melibatkan aturan yang sulit dari warisan Islam.

Kisah Hidup Bapak Aljabar

Bapak Aljabar. Begitulah ilmuwan yang bernama lengkap Abu 'Abdallah Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi itu kerap dijuluki. Ia merupakan seorang ahli matematika dari Persia yang dilahirkan pada tahun 194 H/780 M, tepatnya di Khwarizm, Uzbeikistan. Karena itulah, ia kerap kali disapa dengan panggilan Khawarizmi.

Selain terkenal sebagai seorang ahli matematika yang agung, ia juga adalah astronomer, dan geografer yang hebat. Berkat kehebatannya, Khawarizmi terpilih sebagai ilmuwan penting di pusat keilmuwan yang paling bergengsi pada zamannya, yakni Bait al-Hikmah atau House of Wisdom yang didirikan khalifah Abbasiyah di metropolis intelektual dunia, Baghdad.

Bait al-Hikmah merupakan lembaga yang berfungsi sebagai pusat pendidikan tinggi. Dalam kurun dua abad, Bait al-Hikmah ternyata berhasil melahirkan banyak pemikir dan intelektual Islam. Di antaranya, nama-nama ilmuwan seperti Khwarizmi.

Khawarizmi adalah seorang ilmuwan jenius pada masa keemasan Islam di kota Baghdad, pusat pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah. Ia sangat berjasa besar dalam mengembangkan ilmu aljabar dan aritmetika. K

Kitab Aljabr Wal Muqabalah (Pengutuhan Kembali dan Pembandingan) merupakan pertama kalinya dalam sejarah dimana istilah aljabar muncul dalam kontesk disiplin ilmu. Nama aljabar diambil dari bukunya yang terkenal tersebut. Karangan itu sangat populer di negara-negara barat dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin dan Italia. Bahasan yang banyak dinukil oleh ilmuwan barat dari karangan Khawarizmi adalah tentang persamaan kuadrat.

Sumbangan Al-Khwarizmi dalam ilmu ukur sudut juga luar biasa. Tabel ilmu ukur sudutnya yang berhubungan dengan fungsi sinus dan garis singgung tangen telah membantu para ahli Eropa memahami lebih jauh tentang ilmu ini. Ia mengembangkan tabel rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus dan kotangen serta konsep diferensiasi.

Selain mengarang al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah, ia juga diketahui telah menulis beberapa buku dan banyak diterjemahkan kedalam bahasa latin pada awal abad ke-12, oleh dua orang penerjemah terkemuka yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmetikanya, satu diantaranya berjudul Kitab al-Jam'a wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi (Menambah dan Mengurangi dalam Matematika Hindu).

Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di Eropa. Khawarizmi meninggal pada tahun 262 H/846 M di Baghdad.(rp)www.suaramedia.com

Abbas Ibnu Firnas, Peletak Dasar Teori Pesawat Terbang

198817_10150250101565658_175817530657_8028910_3804329_n.jpg (550×550)
Oleh : Mujiyanto


Ia mencoba membuat prototype pesawat layang pertama dan menerbangkannya dari atap sebuah menara.

Tak banyak yang tahu, konsep pertama pesawat terbang adalah produk seorang Muslim. Bukan Roger Bacon yang dikenal sebagai peletak dasar teori pesawat terbang ala Barat. Lima ratus tahun sebelum Bacon, Abbas Ibnu Firnas, seorang Muslim Spanyol yang hidup di abad ke-9 M telah mendahuluinya.

Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno tentang pesawat terbang layang.

Ia hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Spanyol (dulu bernama Andalusia). Pada tahun 852, di bawah pemerintahan khalifah baru, Abdul Rahman II, Ibnu Firnas membuat pengumuman yang menghebohkan warga Cordoba. Ia ingin melakukan ujicoba 'terbang' dari menara Masjid Mezquita dengan menggunakan 'sayap' atau jubah tanpa lengan yang dipasangkan di tubuhnya.

Uji cobanya ini berhasil. Ia bisa mendarat meskipun mengalami cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal dengan parasut pertama di dunia. Menara Masjid Mezquita di Cordoba menjadi saksi bisu perwujudan konsep pertama pesawat terbang yang lahir dari pemikiran seorang Muslim.

Keberhasilannya itu mendorongnya untuk mengembangkan temuan tersebut. Ia melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori berdasarkan gejala alam yang dilihatnya. Sebagai salah satu bahan perbandingan penelitiannya adalah bagaimana burung bisa terbang. Dari situlah ia mencoba membuat prototype pesawat layang.

Ada dua catatan konstruksi pesawat terbang Ibnu Firnas. Salah satunya menyebutkan, setelah menyelesaikan model pesawat terbang yang dibuatnya, Ibnu Firnas mengundang
masyarakat Cordoba untuk datang dan menyaksikan hasil karyanya itu.

Warga Cordoba saat itu berkumpul di sekitar sebuah menara. Dari menara itulah Ibnu Firnas akan memperagakan temuannya. Ia menjadikan puncak menara itu sebagai landasan luncur. Namun karena cara meluncur yang kurang baik, ia terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Ia mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan ujicoba berikutnya.

Catatan versi kedua menyebut, Ibnu Firnas tidak melengkapi pesawat layang buatannya dengan ekor sebagaimana burung. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkannya gagal mendaratkan pesawat temuannya dengan sempurna.

Di catatan kedua pun dikatakan bahwa Ibnu Firnas cedera punggung. Akibatnya ia tak mampu lagi mengembangkan temuannya itu di alam terbuka. Sebagai gantinya ia melakukan di dalam ruangan—sekarang sering disebut laboratorium. Di sana ia mempelajari gejala alam, termasuk mekanisme terjadinya halilintar dan kilat. Dari situ ia berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dan kristal.

Belum tuntas niatnya membuat pesawat layang, tahun 888 Ibnu Firnas wafat dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggungnya.

Selain dikenal sebagai peletak dasar teori pesawat terbang, pria yang dikenal dengan nama Latin, Armen Firman, ini juga ahli dalam bidang kimia dan memiliki karakter yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan barang-barang berteknologi baru saat itu.

Ia tercatat memiliki karya-karya monumental seperti konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air, serta cara membuat gelas dari garam. Ia dikenal pula sebagai pembuat rantai rangkaian yang menunjukkan pergerakan benda benda planet dan bintang. Selain itu, Ibnu Firnas pun menunjukkan cara bagaimana memotong batu kristal yang saat itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Mesir.

Semua temuannya itu lahir karena sebuah dorongan ingin memberikan manfaat kepada manusia. Bukankah itu amal jariyah yang tak pernah putus?

Yaman pun Negeri Asal Para Ilmuwan

Oleh: Dr. Fahmi Amhar

Yaman sedang bergolak. Presidennya terluka dan kabur berobat ke Saudi Arabia. Suasana politik menjadi serba belum pasti hingga tulisan ini ditulis. Dalam suasana seperti itu tentu sulit untuk melanjutkan kehidupan secara normal, apalagi aktivitas pendidikan dan pengembangan sains dan teknologi.

Dahulu, ketika Khilafah masih tegak dan syariah masih diterapkan, keributan politik tak banyak berpengaruh pada aktivitas pendidikan dan pengembangan sains, karena aktivitas ini sudah melebur dalam kehidupan masyarakat. Karena itu meski Khalifah silih berganti dan sebagian bahkan secara berdarah tetapi pendidikan tetap berjalan dengan kualitas tinggi, melanjutkan nilai-nilai Islam ke generasi berikutnya. Para ilmuwan juga tetap berkarya karena era yang baru tentu tetap membutuhkan kontribusi mereka.

Di masa lalu, meski Yaman tidak sebesar Baghdad atau Cordoba, namun Yaman ternyata juga pernah punya sejumlah ilmuwan besar.

Yang pertama Ya’qūb ibn Isḥāq al-Kindī (Alkindus), yang dijuluki “guru-filosof-kedua-pasca-Aristoteles”. Dia hidup dari 801 - 873 M. Meski lahir di Kufah Iraq, tetapi al-Kindi adalah keturunan bani Kindah yang berasal dari Yaman. Selain filosof, dia juga ahli berbagai bahasa, juga dokter yang meneliti dosis tepat khasiat obat (farmakologi) dan menggabungkannya dengan khasiat terapi musik, bahkan juga bereksperimen dengan cryptografi - bagian ilmu matematika untuk menyandi dan mengungkap informasi yang tersandi. Al-Kindi pernah menjadi tokoh sentral di Baitul Hikmah di Baghdad, dan beberapa Khalifah Abbasiyah menunjuknya untuk menjadi guru privat anak-anak Khalifah serta memimpin tim penerjemahan banyak naskah Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Karena naskah-naskah ini umumnya membahas filsafat, maka dalam perkembangannya, tulisan-tulisan al-Kindi tentang filsafatlah yang paling banyak dibicarakan orang.

Potret al-Kindi

Sebagian dari karya filsafat al-Kindi memang kontroversial dan menjadi sasaran kritik para ahli Ushuluddin. Misalnya al Kindi menganggap bahwa wahyu dan pengetahuan empiris adalah dua jalur yang sama-sama menuju Tuhan. Ini bisa diartikan bahwa tanpa wahyupun orang bisa mendapatkan kebenaran bagaimana cara beribadah dan cara hidup di dunia lainnya. Sayangnya, tidak banyak tulisan asli al-Kindi yang bertahan hingga zaman modern untuk direview. Sebagian yang ada hingga kini adalah komentar atas komentar tulisan al-Kindi. Bisa saja, komentar yang pertama sudah bias karena tidak memahami pendapat asli al-Kindi.

Ilmuwan Italia zaman Rennaisance Geralomo Cardano (1501-1575) menyebut al-Kindi sebagai salah satu dari 12 pemikir terbesar Zaman Pertengahan. Menurut Ibn an-Nadim, al-Kindi menulis sedikitnya 260 buku, di antaranya 32 buku tentang geometri, 22 buku tentang kedokteran, 22 buku filsafat, 9 buku logika, 12 buku fisika. Meskipun banyak bukunya telah hilang, sebagian terjemahan latinnya diselamatkan Gerard of Cremona dan sebagian lain ditemukan di sebuah perpustakaan di Turki.

Dari buku cryptografi al-Kindi

Harbi al-Himyari adalah ilmuwan Arab dari Yaman hidup antara abad 7 - 8 M. Dia adalah salah satu guru dari ahli kimia terbesar Jabir al Hayyan. Namun biografinya tidak banyak diketahui.

Abū Muḥammad al-Ḥasan ibn Aḥmad ibn Yaqūb al-Hamdānī (sekitar 893-945 M) adalah Muslim Arab yang ahli geografi, pujangga, ahli bahasa, sejarawan dan astronom. Dia berasal dari suku Hamdan, di barat ‘Amran Yaman. Dia adalah salah satu wakil kebudayaan Islam pada masa-masa akhir Khilafah Abbasiyah.

Sayang data biografi al-Hamdānī sangat sulit diketahui, meskipun karya ilmiahnya tersebar luas. Dia sangat dikenal reputasinya sebagai grammarian (ahli bahasa), tetapi juga menulis banyak puisi, mengompilasi tabel astronomi, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mempelajari sejarah dan geografi kuno Arabia.

Ayahnya adalah pengelana dan sering harus ke kota-kota Kufah, Baghdad, Basra, Oman dan Mesir. Pada usia 7 tahun, dia telah mulai bercakap tentang pengelanaan. Dia lalu pergi ke Makkah dan tinggal dan belajar di sana lebih dari enam tahun. Belakangan dia balik ke San’a dan berkarya di Himyar. Namun sikapnya yang kritis terhadap politik membuatnya dipenjara hingga dua tahun. Setelah dilepas dia kembali ke Rayda, dan dalam perlindungan sukunya, dia berkarya di sana sampai wafat hingga 945 M.

Karya al-Hamdani tentang Geografi Jazirah Arab (Sifat Jazirat ul-Arab) adalah karya yang sangat penting di bidang ini, bahkan hingga seribu tahun kemudian (!) sebagaimana diakui oleh A. Sprenger dalam bukunya “Post- und Reiserouten des Orients” (Leipzig, 1864) dan dalam “Alte Geographie Arabiens“ (Bern, 1875). Karya besar al-Hamdānī yang lain adalah “Iklil” (Mahkota) yang membahas genealogi (silsilah) para Himyarit, peperangan di antara mereka dan para rajanya, dalam 10 jilid. Jilid 8 tentang kota-kota dan istana di Arab Selatan telah diedit dan dikomentari oleh Müller dalam buku “Die Burgen und Schlösser Sudarabiens“ (Vienna, 1879-1881).

Hakekat Masalah
Seiring perkembangan zaman yang semakin modern, umat manusia semakin terbuai oleh teknologi, mereka di manjakan dengan fasilitas teknologi dan berbagai produk teknologi yang membuat mereka lupa akan kebesaran Sang Khalik.

Ada dua teori perubahan sosial dan sosiologi. Pertama, proses perubahan yang di mulai pada diri manusia secara individu (perorangan), kemudian di lanjutkan pada perubahan sosial pada level masyarakat dan kemudian diakhiri pada proses perubahan pada level sistem sains dan teknologi. Kedua, proses perubahan sosial yang dimulai dari perubahan sistem sains dan teknologi, kemudian merambat pada perubahan level masyarakat, dan diakhiri perubahan pada level individual.

Al-Qur'an surat At-Tahrim ayat 6 berbunyi sebagai berikut :

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerkjakan apa yang diperintahkan." (QS. At tahrim : 6)

Berdasarkan ayat diatas Islam menganut teori perubahan sosial pertama. Adanya kewajiban memperbaiki kualitas kepribadian di mulai dari dirinya terlebih dahulu, yaitu perintah "Jagalah dirimu" dan kemudian di susul dengan kata "dan keluargamu", menjadi petunjuk bahwa dalam Islam perubahan-perubahan kearah yang positif di mulai dari level individu (diri sendiri) dan kemudian disusul pada masyarakat (teori pertama).

Bila di jabarkan lebih jelas, ayat di atas menggunakan teori perubahan sosial yang perttama, dapat dipahami bahwa perubahan pada diri manusia (secara individual) mencakup keimanan, akhlak, pengetahuan dan perilaku (merupakan factor-faktor yang bisa menyelamatkan manusia dari api neraka). Kemudian perubahan pada level hubungan antara anggota masyarakat berdasarkan faktor-faktor yang telah dimiliki pada level individual tadi.

Setelah terbentuk sistem kemasyarakatan tersebut, barulah perubahan di arahkan pada perubahan sistem sains dan teknologi yang berupa metode-metode untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

teknologiBerbeda dengan Islam, negara-negara Barat menganut pada teori perubahan sosial yang kedua. Di mulai pada perubahan-perubahan (pengembangan) sains dan teknologi, kemudian mengubah sistem kemasyarakatan dengan menyesuaikan pada perubahan yang terjadi dalam bidang sains dan teknologi, dan kemudian diakhiri dengan mengubah sistem perseorangan yang juga menyesuaikan dengan perkembangan sains dan teknologi.

Apa akibat dari pengaruh kedua teori tersebut? Pada teori pertama, perkembangan sains dan teknologi (IPTEK) akan berlangsung dengan cara-cara yang manusiawi, hal ini karena perkembangan IPTEK itu dikendalikan oleh individu dan sistem kemasyarakatan yang sudah memiliki kepribadian, bahkan sains dan teknologi lebih bersifat sebagai sarana.

Sementara pada teori yang kedua, sebagaimana dianut Negara Barat, karena titik awal perubahan dimuali dari perkembangan IPTEK, sedangkan perubahan pada level masyarakat dan level individual menyusul kemudian dengan menyesuaikan pada perkembangan IPTEK, maka IPTEK-lah yang mengendalikan manusia. Disinilah, kemudian terjadi proses yang mengabaikan nila-nilai kemanusiaan, manusia kehilangan jati dirinya, dan manusia asing dengan dirinya sendiri. Inilah yang menimpa negara-negara industri modern, bahkan ironisnya keterasingan sudah merambah pada negara timur bahkan Indonesia.

Sekarang kita lupakan masalah di atas sejenak, mari kita kembali pada masalah yang kita bahas. Ketika mereka mengambil buah hasil karya para ilmuan-ilmuan dan mereka sangat menikmatinya, Namun ketika mereka ditanya "Dari kalangan mana saja ilmuan yang pertama kali melakukan penelitian masalah ilmu pengetahuan dan teknologi?,dan dasar apa yang para ilmuan gunakan ketika melakukan penelitian?"

Fakta membuktikan bahwa sebagian besar dari mereka tidak banyak mengetahui awal perkembangan ilmu pengetahuan dan dasar yang di gunakan oleh para peneliti. Mereka kebanyakan menjawab bahwa para ilmuan yang meneliti pada waktu itu adalah kebanyakan dilakukan oleh kalangan para ilmuan Eropa dan dasar yang digunakannya, kebanyakan dari mereka tidak mengetahuinya. Sungguh ini sangat ironis,mengapa bisa demikian?untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita bahas bersama.

Perlu diketahui sekitar abad ke-7 Islam mengalami kejayaan atau merupakan masa keemasan Islam. Pada saat itu muncul ilmuan-ilmuan Islam yang berperan banyak bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia ini. Dengan hanya bermodal Al-Qur'an mereka dengan teliti menterjemahkan maksud dari ayat-ayat tersebut. Dari ayat-ayat Al-Qur'an inilah mereka para ilmuan Islam menggambarkan tentang maksud ayat-ayat Al-Qur'an tersebut.

Islam merupakan agama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan di muka bumi. Ini tidak terlepas dari sumber agama Islam itu sendiri yaitu Al-Qur'an.

Al-Qur'an melalui ayat-ayatnya telah berepengaruh besar bagi perkembangan ilmu pengetahuaan dan teknologi yang ada di bumi ini. Kekayaan yang terkandung dalam Al-Qur'an ini telah mendorong penemuan-penemuan ilmiah di dunia Islam pada abad ke7 hingga abad ke14 masehi yang memberi sumbangan terhadap perkembangan ilmu di Eropa.

Al-Qur'an mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan dan wahyu adalah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak akan terpisahkan. Keduanya merupakan aspek kebenaran yang sama. Terbukti wahyu yang Allah turunkan kepeda Nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk menuntut ilmu dan pentingnya arti belajar dalam kehidupan umat manusia. Khususnya Islam. (QS Al-Alaq : 1-5).

Al-Qur'an mengajarkan bahwa kemajuan keberagaman ilmu pengetahuan dan teknologi dicapai dengan perantaraan belajar. Al-Qur,an sangat menekankan pentingnya proses belajar. Bahkan kenyataannya, seluruh filosofi Al-Qur'an didasarkan pada pembelajaran yang pada gilirannya akan mengangkat derajat manusia.

Tanpa pengetahuan manusia tidak dapat mengenal Tuhan dan rahasia kekuasaan-Nya, Firman Allah dalam surat Al-‘Alaq jelas menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki agar manusia mengenal-Nya melalui manifestasi dan keajaiban-Nya dalam alam semesta ini. Kemudian ia diajari rahasia nama-nama yang terdapat dalam ciptaan Tuhannya, sedangkan mahluk ciptaan-Nya yang lain disuruh tunduk dan bekerja dalam segala hal yang ia inginkan

Pada saat yang bersamaan jika kita menimba ilmu pengetahuan tanpa di barengi dengan do'a maka yang akan di rasakan adalah ketidaksempurnaan dalam belajarnya. Di tegaskan pula menurut Al-Qur'an hanya orang yang berilmu, akan dapat derajat yang tinggi karena mereka akan mengetahui betapa besarnya mukjizat yang allah berikan kepada uamat-Nya. Di dalam Al-Qur'an di jelaskan pula bahwa seluruh yang ada di alam semesta di penuhi dengan tanda-tanda kekuassaan-Nya yang di sadari hanya orang yang berilmu saja.

Lihat gambar ukuran penuhManusia sebagai insan yang berpotensi untuk mengetahui dan menguasai ilmu pengetahuan dan Allah-lah yang mengajari tentang apa yang tidak manusia ketahui.

"dan Allah mengajarkan pada manusia apa yang tidak diketahuianya."

Dalam mendorong umat Islam untuk bekerja sungguh-sungguh dalam pencarian ilmu harus terus di sosialisasikan karena masa mendatang akan lebih berkembang.

Pada waktu bersamaan Allah memperingatkan kepada manusia bahwa dalam bekerja karas untuk memperjuangkan kehidupan seharusnya tidak melupakan tujuan dari penciptaannya adalah ketika mengambil manfaat alam semesta ini untuk memenuhi kebutuhannya tidak melupakan satu hal. Ia wajib ingat bahwa hidup itu sementara ia jangan sampai larut oleh kekayaan dunia fana ini.


Kitabuallah mengatakan bahwa pengetahuan dan pengajaran yang sejati hanya dapat diperoleh melalui utusan Allah:

Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas semua syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan jangnlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk rohmat bagi kaum yang meyakini.(QS Al-Jaksiyah:18-20).

Orang-orang yang beriman itu berkata : " Hai kaumku, ikutlah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak ku ketahui padahal aku menyeru kamu( beriman) kepada yang mha perkasa lagi maha pengampun?". (QS Al-Mukmin : 38,41-42). (www.Google.com)

Ayat-ayat di atas dengan sangat jelas bahwa ilmu pengetahuan yang benar adalah datang dari para utusan-Nya. Sumber-sumber yang datang dari selain Allah SWT hanyalah dugaan belaka dan tidak ada manfaatnya bagi alam semesta. Al-Qur'an menjelaskan (QS Yunus:36).

Melalui ayatnya, Al-Qur'an memberi dorongan kepada para ilmuan-ilmuan untuk melakukan beragam macam penelitian dalam pendidikan. Banyak sekali ilmu-ilmu yang disebutkan dalam Al-Qur'an yang manfaat dari ilmu tersebut bisa kita rasakan sampai saat ini seperti ilmu Astronomi yang manfaatnya adalah untuk mengetahui bagaimana keadaan-keadaan tentang planet atau benda luar angkasa yang mana gunanya untuk membantu kegiatan perhitungan tentang luar angkasa, matematika gunanya untuk menghitung yang aplikasinya banyak digunakan untuk menjaga keseimbangan suatu benda, kedokteran : bukti teknologi, adanya alat-alat yang digunakan untuk operasi, dan sebagainya yang hikmah mempelajari ilmu-ilmu tersebut adalah untuk mengetahui betapa besarnya Allah SWT menciptakan alam semesta raya ini, berikut dijelaskan sebagian ilmu tersebut :

1. Astronomi
Astronomi adalah ilmu penegtahuan yang berkaitan dengan gerakan penyebaran dan karakteristik benda-benda langit.

Pendapat lain, ilmu astronomi adalah ilmu yang membahas kemajemukan langit dan bumi.

Semua yang berhubungan dengan alam semsta ini banyak sekali di jelaskan dalam Al-Qur'an yang mengacu pada suatu kesan keharmonisan dan kesetimbangan yang sangat menakjubkan diantara gerakan benda-benda langit. Itu menunjukkan bahwa mereka sedemikian taatnya kepada Sang Pengatur alam jagat raya ini. Semuanya diatur dan di kendalikan oleh Allah SWT sehingga keteraturan dan keseimbangan yang ditunjukkan oleh alam jagat raya ini menjadi tanda akan kebesaran Allah SWT.

Banyak sekali ayat-ayat alqur'an yang memberikan gambaran tentang banyaknya jumlah langit dan bumi. Al-qur'an menuntun manusia untuk memperhatikan langit :

"Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada diatas mereka? Bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit-langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun?" (QS Qaf : 6).

Pengaturan dan pengendalian benda-benda langit itu sedemikian menakjubkan. Al-qur'an menjelaskan keteraturan dan keseimbangan yang mengagumkan ini dengan firman berikut :

"Katakanlah: "Siapa Yang Empunya langit yang tujuh dan Ynag Empunya ‘Arasy yang besar?" mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah,"Katakanlah: "maka apakah kamu tidak bertakwa? Katakanlah: "Siapa yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?"(QS Al-Mu'minun : 86-88).

Tujuan gerakan matahari dan bulan di gambarkan sebagai berikut :

"Dia menyingsikan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan )matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui." (QS AL-Anam:96).

Adapun hikmah di balik pergerakan bintang-bintang, di jelaskan Allah di dalam firman -Nya:

"Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya pentunjuk dalam ke gelapan di darat dan di laut sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) pada orang-orang yang kami ketahui"

Kemudian Al-Qur'an menagrahkan perhatian manusia pada keteraturan, disiplin, ketat, dan gerakan-gerakan yang menakjubkan.

Ayat-ayat Al-Qur'an itu sungguh mendorong pengembangan penelitian ilmih dan study tentang astronomi untuk mengungkap banyak lagi informasi tentang ciptaan Allah Yang Maha Esa tentang karakteristik dan perilaku benda-benda langit, sifat, dan pengaruh gerakannya terhadap fenomena alam. Semakin kita berfikir tantang tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di langit dan di bumi,semakin dekatlah kita kepada Sang Pencipta alam semesta

2. Matematika

Sebagaimana sumber ilmu pengetahuan lainnya dalam Islam, konsep kajian kajian matematika adalah tauhid, yaitu keesaan Allah.

Bilangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kajian matematika pada masa permulaan sejarah Islam. Dimensi kualitatif dan sepiritual dari angka-angka segera mengislamisasikan konsep bilangan ala pitagoras menjadi sebuah bentuk yang sering di sebut sebagai "Pitagoras Ibrahimi "yang amat tersohor. Ini adalah sebuah paham bahwa peranan angka-angka dan bilangan sangat menonjol karena di sinari oleh pesan dari Yang Maha Esa.

Jalaslah bahwa mempelajari bilangan-bilangan dan angka-angka memperoleh dorongan kuat dari Al-Qur'an sehingga membuka cakrawala belajar baru dalam bidang matematika. Kebodohan manusia di ganti dengan ilmu pengetahuan, kemiskinan di ganti dengan kekayaan.

Berkat study Al-Qur'an kaum muslimin mencapai keberhasilan besar dalam ilmu pengetahuan tentang angka-angka dan bilangan dan kemudian berlanjut pada ilmu hitung. Al-Qur'an menyebutkan angka-angka dalam berbagai konteks, misalnya

"Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar kami mengetahui manakah di antara golongan itu yang lebih tepat dalam menghituing dalam beberap lamanya mereka tinggal (dalam gua)." (QS- Al-kahfi:11-12).

"Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal dibumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung."Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi), melainkan sebentar saja, jika kamu sunggu-sungguh mengetahui." (QS Al-Mu'minun:112-114). (www.google.com)

Masih banyak lagi ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang telah memberikan bahan pemikiran dan dimensi kepada para ahli matematika agar mereka lebih dalam lagi memasuki dunia angka dan bilangan dan menemukan metode dan teknik baru dalam mencari jawaban yang tepat terhadap masalah yang diajukan.

Al-Qur'an memang benar-benar memberikan dorongan kepada para ilmuan Islam untuk melakukan penelitian dalam bidang matematika yang pada gilirannya memungkinkan para ilmuan muslim menemukan teknik-teknik baru dalam bidang ini.

3. Kedokteran
Kemajuan di bidang kedokteran juga dilatar belakangi oleh penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli kedokteran di masa yang lalu dengan merujuk pada sumber ilmu didunia yaitu Al-Qur'an. Prinsip yang ada dalam Al-Qur'an dengan mengutamakan keseimbangan dan keselarasan hidup manusia, ini merupakan sumber inspirasi terbesar dalam pengembangan semua disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam. Semua aturan syariat Islam yang ada pada Al-Qur'an mengarah pada kehidupan yang sehat dan kebersihan rohani, lingkungan yang bersih yang aman bagi kelancaran hidup manusia itu sendiri

Faktor awal yang mendorong umat Islam mempelajari ilmu kedokteran adalah tubuh manusia itu sendiri.Selanjutnya kajian Al-Qur'an juga mendorong pengkajian terhadap tubuh manusia karena ia mengatakan bahwa tubuh manusia merupakan tanda kebesaran Sang Khalik.

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaaan Allah) bagi orang orang yang yakin." (QS Al-Dzariat : 20).

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak." (QS Al-Rum:20).

Dari sinilah bisa di katakan bahwa awal perkembangan ilmu kedokteran adalah berawal dari Al-Quran yang tujuannya tidak lain adalah untuk menunjukkan betapa agungnya Allah Sang Maha Pencipta.

Sebagian ilmu yang dijelaskan di atas adalah merupakan sebagian kecil ilmu yang telah di jelaskan oleh Allah melalui firman-Nya. Masih banyak lagi cabang ilmu yang mungkin tidak bisa penulis jabarkan namun manfaat dari ilmu tersebut bisa kita rasakan sampai sekarang. Ilmu-ilmu yang berkembang saat ini merupakan perkembangan penelitian yang di lakukan oleh pakar ataupun ahli-ahli dalam bidangnya yang berasal dari kalangan Islam yang kemudian di pakai hingga sampai sekarang ini.

Jelas sudah bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berasal dari orang Islam, pendapat yang mengatakan perkembangan IPTEK dilakukan atau diteliti oleh orang-orang Barat (Eropa) di bantah dengan tegas melalui ayat-ayat Al-Qur'an diatas. Serta para ilmuan ketika melakukan peneltian selalu menggunakan dasar yaitu Al-Qur'an sehingga jelas bahwa antara Islam dengan perkembangan ilmu teknologi sangat berkaitan erat karena sumber Islam itu sendiri yaitu Al-Qur'an. Dengan ini kita dapat menambah pengetahuan kita semua serta menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT bahwa Allah telah menciptakan pedoman hidup bagi manusia yang begitu lengkapnya.

Kemunduran dan Kejatuhan Imperium Amerika

Lokomotif ekonomi Abad ke-20 muncul lebih kuat dari Era Depresi Ekonomi. Tapi ketika dihadapkan dengan pembusukan budaya, kelemahan struktural dan ketergantungan pada keuangan , dapatkah Amerika melakukannya lagi?

Amerika mencatat sebuah rekor minggu lalu. Jatuhnya harga perumahan baru-baru ini berarti bahwa harga perumahan real estate telah turun 33% sejak puncak kejatuhan – bahkan lebih besar dari 31% ketika John Steinbeck menulis The Grapes of Wrath.

Pengangguran belum kembali ke tingkat Era Great Depression tetapi level pengangguran 9,1% dari jumlah tenaga kerja itu masih pada level yang akan mengkhawatirkan Gedung Putih. Presiden terakhir yang terpilih kembali dengan pengangguran di atas 7,2 % adalah Franklin Delano Roosevelt.

Amerika adalah negara dengan segudang masalah serius. Saat ini, ada satu dari enam warga Amerika bergantung pada kupon makanan pemerintah untuk memastikan bahwa mereka memiliki cukup makanan. Anggaran, yang pernah sedikit surplus lebih dari satu dekade yang lalu, kini memiliki defisit dengan perbandingan sebesar defisit negara Yunani. Ada kelumpuhan kebijakan di Washington.

Asumsinya adalah bahwa masalah-masalah itu dapat dengan mudah diselesaikan karena Amerika adalah negara ekonomi terbesar di planet ini, satu-satunya negara dengan jangkauan militer global, pemilik cadangan mata uang dunia, dan sebuah bangsa dengan catatan penemuan kembali jati diri yang bisa dibanggakan yang terjadi sekali atau lebih dalam setiap generasi.

Semua ini adalah benar dan masih banyak lagi. Universitas-universitas Amerika adalah universitas-universitas hebat, yang menarik orang-orang paling pintar dari seluruh dunia. Ini adalah sebuah negara yang mendorong batas-batas teknologi. Jadi, sangat mungkin bahwa Amerika akan muncul lebih kuat daripada sebelumnya melebihi mimpi buruk terpanjang dari krisis subprime mortgage (krisis kredit pemilikan rumah). Posisi keuangan yang kuat dari perusahaan-perusahaan Amerika bisa melepaskan gelombang investasi baru selama beberapa tahun mendatang.

Biarkan saya menempatkan suatu hipotesis alternatif. Pada tahun 2011, Amerika adalah seperti Romawi pada tahun 200AD atau seperti Inggris menjelang Perang Dunia Pertama: sebuah imperium yang berada di puncak kekuasaan, tetapi dengan keretakan yang mulai terlihat.

Pengalaman dari Romawi dan Inggris menunjukkan bahwa sulit untuk menghentikan kebusukan sekali saja hal itu mulai terjadi, jadi yang berikut ini adalah beberapa tanda peringatan : militer yang menyebar dimana-mana, jurang yang melebar antara si kaya dan si miskin, ekonomi dengan sebuah lubang menganga lebar, warga yang menggunakan hutang di luar kemampuannya untuk bertahan hidup, dan kebijakan-kebijaan yang pernah efetif tapi saat ini tidak lagi bisa menyelesaikan. Tingginya tingkat kejahatan dengan kekerasan, epidemi obesitas, kecanduan pornografi dan penggunaan energi yang berlebihan semuanya ini dapat memberitahu kita suatu hal : Amerika Serikat berada dalam dekadensi budaya yang akut.

Kemunduran Imperium terjadi karena berbagai alasan, tapi faktor-faktor tertentu adalah faktor-fator kambuhan. Ada keengganan awal untuk mengakui bahwa ada banyak hal yang seharusnya meresahkan, dan datangnya sebuah penantang (atau beberapa penantang) dalam tatanan internasional. Dalam kasus Spanyol pada masa lalu, saingan itu adalah Inggris. Dalam kasus Inggris pada masa lalu, saingan itu adalah Amerika. Dalam kasus Amerika saat ini, ancaman itu berasal dari Cina.

Kemunduran Inggris berlangsung sangat cepat setelah tahun 1914. Pada tahun 1945, Inggris adalah sedikit pemain di dunia bipolar (dua kutub) yang didominasi oleh Amerika dan Uni Soviet, dan jantung sterling – standar emas abad ke-19 – dengan cepat kehilangan kilauannya sebagai mata uang cadangan. Ada kekhawatiran, yang disuarakan sejauh kembali ke Era Penemuan tahun 1851, bahwa orang-orang yang lebih lapar, adalah produsen-produsen yang lebih efisien di Jerman dan Amerika Serikat yang mengancam hegemoni industri Inggris. Tapi tidak ada tindakan serius yang diambil sebagai kebijakan. Dalam paruh kedua abad ke-19 terjadi pergeseran halus dalam perekonomian, dari Utara ke Selatan Inggris, dari manufaktur kepada keuangan, dari membuat sesuatu kepada hidup dari penghasilan investasi. Pada tahun 1914, tulisan itu terpampang di dinding.

Dalam dua hal penting, Amerika pada hari ini berbeda dari Inggris seabad yang lalu. Amerika jauh lebih besar, yang berarti bahwa negeri itu mengambil manfaat dari ekonomi skala-benua, dan negara itu telah hadir dalam industri yang akan merupakan industri strategis yang penting pada paruh pertama abad 21. Inggris pada tahun 1914 terlalu tergantung pada batubara dan pembuatan kapal laut, yakni suatu industri yang bergantung pada perang dunia, dan telah gagal untuk cukup awal memahami akan pentingnya kemunculan teknologi-teknologi baru.

Meskipun demikian, ada kesejajaran. Telah ada pergeseran jangka panjang dari penekanan dalam ekonomi Amerika dari manufaktur dan menuju keuangan. Ada tantangan yang berkembang dari produsen di bagian-bagian lain dunia.

Kegilaan

Sekarang, perhatikanlah hal kontras antara pemulihan ekonomi dan pola siklus-siklus sebelumnya. Secara tradisional, pemulihan ekonomi Amerika melihat pengangguran turun pada saat suku bunga yang lebih rendah mendorong konsumen untuk berbelanja dan industri konstruksi mulai membangun perumahan lagi. Kali ini, masalahnya telah berbeda. Ada kegilaan untuk membangun perumahan selama tahun-tahun masa gelembung ekonomi, yang menyebabkan kelebihan pasokan perumahan bahkan sebelum harganya terjun bebas dan meningkatnya pengangguran menyebabkan penyitaan perumahan dengan cepat.

Amerika memiliki lebih banyak rumah lebih dari yang negeri itu tahu apa yang harus dilakukannya, dan bahwa keadaan itu tidak akan berubah selama bertahun-tahun.

Selama beberapa bulan terakhir, pemberitaan tentang kondisi ekonomi yang buruk sangat sedikit sehingga telah meluluhkan harapan akan pemulihan berkelanjutan. Optimisme saat ini telah digantikan oleh kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat menuju kepada resesi ekonomi berganda (double-dip recession mengacu pada resesi yang diikuti oleh pemulihan ekonomi singkat, lalu diikuti oleh resesi lain-pent) yang ditakuti.

Di pasar real estat, yang merupakan gejala mendalam dari kelesuan ekonomi Amerika, double dip telah tiba. Pengurangan pajak (tax break adalah pengurangan pajak yang diberikan untuk mendorong aktiitas komersial-pent) bagi para pemilik rumah hanya diberikan sementara karena pasar yang jatuh sementara jutaan orang Amerika tinggal di rumah-rumah yang nilainya kurang dari harga yang mereka bayar untuk rumah-rumah mereka. Angka-angka terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 28% rumah-rumah dengan hipotek berada dalam ekuitas negative (negative equity adalah nilai properti kurang dari saldo pinjaman untuk membeli aset/properti itu). Tidak mengherankan, hal itu telah membuat Amerika jauh lebih berhati-hati dalam hal pengeluaran uang. Naiknya harga-harga komoditas memperburuk masalah, karena hal itu mendorong inflasi dan mengurangi daya beli yang berasal dari upah dan gaji.

Kebijakan makro-ekonomi telah terbukti kurang efektif daripada kebijakan normal. Namun, hal itu bukan karena keinginan untuk mencoba. Amerika Serikat memiliki tingkat suku bunga jangka pendek sebesar 0 % selama lebih dari dua tahun. Tingkat suku bunga ini memiliki dua dosis besar pelonggaran kuantitatif, dimana dosis yang kedua saat ini berakhir. Defisit anggaran negera itu begitu besar sehingga telah menyebabkan diberikannya peringatan dari lembaga-lembaga pemeringkat kredit, meskipun ada status mata uang dolar cadangan. Dan Washington telah mengadopsi kebijakan kebijakan yang jinak terhadap mata uang, meskipun ada retorika dolar yang kuat, dengan harapan bahwa ekspor murah akan menekan pengeluaran konsumen.

Kebijakan, seperti biasanya, diarahkan pada pertumbuhan karena ketakutan yang besar pada The Fed, Departemen Keuangan dan siapa saja yang menempati Gedung Putih adalah seperti kembali ke era tahun 1930-an. Pada saat itu, kelesuan ekonomi sebagian besar disebabkan oleh deflasi kebijakan ekonomi yang memperdalam resesi yang disebabkan oleh munculnya gelembung pasar saham pada tahun 1920. Tanggapan yang lemah untuk obat pertumbuhan saat ini menunjukkan bahwa Amerika secara struktural jauh lebih lemah daripada di tahun 1930-an. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu dibutuhkan keuangan yang melanggar batas ekonomi dan langkah-langkah untuk meningkatkan daya beli keluarga pada umumnya sehingga mengurangi ketergantungan mereka pada utang. Hal ini akan memerlukan amnesti bagi pasar perumahan. Di atas segalanya, Amerika harus menemukan kembali kualitas yang pada awalnya membuatnya besar. Hal itu tidaklah mudah. (rza)

Guardian (6/6/2011)